Antara Nafsu,Ruh dan Kekuasaan Alloh


Surat Az-Zumar ayat 42
Ayat ini menyimpan sebuah makna atau penafsiran tentang manusia yang kelak pasti akan mencicipi apa yang dinamakan sebuah kematian. Kematian tidak bisa dielakkan lagi dari setiap insan yang bernyawa. Oleh sebab itu ketika kita mau berfikir tentang ayat-ayat Allah yang mengandung banyak tafsiran maka kita akan menemukan ilmu yang sangat luas. Tatkala kita melirik atau terfokus pada ayat yang ke-42 dari surat Az-Zumar, kita bisa menggali makna atau kesimpulan yang tersirat dari ayat tersebut. Di sana dijelaskan bahwa semua manusia yang hidup pasti akan mati. Manusia yang mati pada hakikinya yang diambil Allah swt. adalah nafsu atau ruhnya bukan badannya. Dijelaskan dalam firman Allah.

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ (27) ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً (28) [الفجر/27، 28

27. Hai jiwa yang tenang.
28. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.

Karena nyawa menunjukkan sesuatu yang bergantung pada badan atau jasad manusia, maka sering kali timbul anggapan bahwa yang diambil adalah badan manusia. Sekarang timbul adanya suatu pertanyaan. Dimanakah nafsu manusia ketika nyawanya diambil,? Seorang manusia tatkala nyawanya diambil maka ruh yang melekat pada dirinya itu akan hilang sehingga nafsu manusia juga ikut hilang. Dengan demikian pada saat seorang insan mengalami kematian maka nafsunya tidak melekat pada jasadnya. Dalam Al-Qur’an Allah telah menyebutkan :

اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ [الزمر/42

42. Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; Maka dia tahanlah jiwa (orang) yang Telah dia tetapkan kematiannya dan dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan[1313]. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.

[1313] Maksudnya: orang-orang yang mati itu rohnya ditahan Allah sehingga tidak dapat kembali kepada tubuhnya; dan orang-orang yang tidak mati Hanya tidur saja, rohnya dilepaskan sehingga dapat kembali kepadanya lagi.

Dalam ayat ini Allah menunjukkan kekuasaannya. Pada saat kondisi mati nafsu sama sekali tidak bisa membedakan apa-apa yang ada di sekitarnya, baik itu manusia, mahluk lain, orang tua, anak-anak, hitam, putih, dan seterusnya. Sama halnya dengan nafsu kehidupan manusia, ketika mati maka ruh juga dihilangkan dari tubuh manusia yang penuh kelemahan ini. Bisa dicontohkan juga bahwa semua manusia di alam jagad raya ini saat mengalami tidur sebenarnya nafsu yang ada pada diri mereka juga dihilangkan, namun kenyataannya mereka tidur tapi tetap dalam keadaan masih hidup. Adanya contoh yang dijabarkan diatas bisa menjadi sebuah alasan yang mengutarakan bahwa manusia tidur pastinya tidak mampu membedakan atau memilah keadaan apapun di sekitarnya. Oleh sebab itu kondisi tersebut bisa dijadikan sebuah alasan yakni sebenarnya nafsunya lah yang dicabut sesuai penafsiran اي موتها والمرسلة . Sama halnya tatkala anak manusia mati, nafsu kehidupan manusia masih ada pada tubuhnya. Namun dalam kondisi seperti ini manusia tidak mampu membedakan hal-hal yang ada di sekelilingnya.

Kondisi seperti itu diakibatkan adanya nafsu hakiki manusia yang telah dihilangkan. Namun yang hilang bukanlah nafsu kehidupan dan yang perlu kita mengerti saat kita mati sebenarnya nafsu kita masih ada (disebut nafsu tamyiz).

Sekarang kita mengerti bahwasanya manusia mempunyai 2 macam kondisi pada dirinya masing-masing yang di situ terbagi antara ruh dan nafsu. Untuk itu kita juga harus mengetahui perbedaan dan alasan dari keduanya yang mencakup antara nafsu dan ruh. Nafsu sendiri bisa berada dalam diri manusia pada hakikatnya karena masih melekatnya ruh pada tubuhnya. Sedangkan tatkala nafsu yang ada pada diri manusia itu hilang atau sirna maka hal tersebut tak lain disebabkan karena ruh manusia sendiri ikut hilang.

Nyawa dikatakan hilang tatkala nafsu yang ada pada manusia ikut hilang (nafsu tamyiz). Dalam persoalan ini cahaya ruh dapat disamakan dengan sinar/sorot (bahasa jawa) matahari. Dengan maksud ruh adalah sorot dan nafsu adalah matahari.
Begitu juga menyinggung ayat :

وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ

Sebaiknya manusia mengerti kondisi apa atau kapan kematian yang dimaksud itu akan terjadi. Dari sini bisa disimpulkan bahwa seorang manusia baru dikatakan mati kalau kematiannya telah diambil Allah dan kalau kematiannya belum diambil berarti dia belum mati.

Surat Az-Zumar ayat 43.

Orang-orang kafir sadar dengan sesadar-sadarnya dan mengerti siapa yang menciptakan diri mereka. Mereka sebetulnya sudah tahu sendiri jawabannya yaitu Allah swt. Namun mereka ingkar dan justru meyakini bahwa dalam semua urusan yang menolong mereka bukanlah Allah (Tuhan Muhammad) melainkan ashnam (berhala) yang mereka sembah. Oleh karena itu mereka bersikeras tidak mau menyembah Allah Tuhan Pencipta jagad raya. Hal ini termaktub dalam firman Allah yang berbunyi :

أَمِ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ شُفَعَاءَ قُلْ أَوَلَوْ كَانُوا لَا يَمْلِكُونَ شَيْئًا وَلَا يَعْقِلُونَ (43) [الزمر/43

43. Bahkan mereka mengambil pemberi syafa’at selain Allah. Katakanlah: “Dan apakah (kamu mengambilnya juga) meskipun mereka tidak memiliki sesuatupun dan tidak berakal?”

Surat Az-Zumar ayat 44

قُلْ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ [الزمر/44

44. Katakanlah: “Hanya kepunyaan Allah syafaat itu semuanya. Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi. Kemudian kepada- Nyalah kamu dikembalikan”

Sesungguhnya manusia tidak bisa terlepas dari ketergantungannya dengan salah satu mahluk ciptaan Allah swt. Ada mahluk Allah yang besar berwarna biru tatkala awan menghilang dan menjadi berwarna hitam tatkala mendung. Berwarna merah kekuning-kuningan tatkala matahari terbit dan terbenam. Mahluk ini tidak asing lagi di kalangan mahluk hidup di dunia ini yakni mahluk yang dinamakan السماء . Allah menciptakan langit yang banyak manfaatnya bagi umat manusia. Dengan langit manusia bisa mengerti dan mengambil ilmu pengetahuan baik ilmu fisika, perbintangan atau yang lainnya. Diantaranya mahluk lain yang diciptakan Allah adalah bulan dan matahari. Dengan bulan, manusia tahu berapa banyaknya hitungan bulan dalam setahun. Begitu juga dengan hari, mereka tahu tentang istilah hari yang mencakup legi, pahing, pon, wage, kliwon. Begitulah manfaat langit yang telah diciptakan Allah (bagi mereka yang mau berfikir). Sekali lagi kalau kita mau berfikir tentang kekuasaan Allah yang berkaitan dengan ciptaannya itu pasti tidak ada habisnya.

Bookmark and Share





Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: